Chasadja’s Weblog

^pendiDikan webLog^

PENDIDIKAN DI INDONESIA. SEPERTI APA???

OPTIMALISASI PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM

MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

Oleh: Anik Ghufron*)

Tantangan besar bangsa Indonesia memasuki era ilmu pengetahuan adalah kemampuannya menyesuaikan diri terhadap berbagai temuan mutakhir bidang ilmu dan teknologi.

Sir Winston Chruchill (Edmund Bachman, 2005: 1) mengatakan “kekuasaan di masa datang adalah kekuatan pikir”. Dalam konteks ini, menurut penulis ada keterkaitan antara ilmu pengetahuan dengan dimensi pikiran.

Selanjutnya, untuk mampu menguasai ilmu pengetahuan dan sukses di masa depan, satu-satunya cara yang bisa ditempuh adalah melalui pendidikan. Alasannya, pendidikan merupakan instrumen strategis bagi pengembangan segenap potensi individu. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSNP) pada pasal 1 ayat (1) menyebutkan “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Mukhadis (2004) mengemukakan bahwa pembelajaran di Indonesia dewasa ini masih belum maksimal dalam upaya memfasilitasi pembentukan sumberdaya manusia sebagaimana yang dituntut oleh kebutuhan hidup di  abad pengetahuan, yaitu dalam pengembangan aspek: berpikir kreatif-produktif (creative—productive thinking), kiat pengambilan keputusan (decision making), kiat pemecahan masalah (problem solving), keterampilan belajar bagaimana belajar (learning how to learn), keterampilan berkolaborasi (collaboration), dan pengelolaan diri (self management).

Muljani A. Nurhadi (1990: 2) mengemukakan bahwa hampir di setiap negara yang perkembangannya menuju tahap industrialisasi, pemerintah dan masyarakatnya selalu memberikan harapan yang sangat besar terhadap pendidikan sebagai tempat penyiapan tenaga kerja produktif. Asumsi yang digunakan adalah ilmu dan teknologi yang diberikan di lembaga pendidikan apabila dikuasai oleh lulusannya akan menjadi modal sebagai tenaga kerja produktif dan akhirnya akan meningkatkan ekonomi. Dampak negatifnya, setiap terjadi kesenjangan antara tenaga kerja yang tersedia dengan jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan maka kesalahan tersebut selalu ditimpakan kepada dunia pendidikan.

Pendidikan seharusnya difungsikan sebagaimana semestinya, yaitu sebagai institusi pencerdasan dan pencerahan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa bisa dilihat dari apresiasi bangsa tersebut terhadap pendidikan. Apalagi jika dikaitkan dengan era ilmu pengetahuan yang sudah di depan mata kita, di mana di antara keduanya saling berkaitan. Suyata (2001: 2) mengatakan “pendidikan dan informasi berjalan bergandengan dan keduanya bertemu dan bersatu dengan komunikasi. Pendidikan tak dapat terlepas dari informasi dan komunikasi”.

Peningkatan mutu pendidikan di setiap jenis dan jenjang pendidikan merupakan langkah strategis yang perlu dilakukan jika bangsa kita berkeinginan memenangkan kompetisi di berbagai bidang kehidupan di era global. Mengapa yang ditingkatkan mutu pendidikan? Salah satu alasannya, pendidikan selalu berkaitan dengan pengembangan sumberdaya manusia. Tilaar (1998) mengatakan bahwa pendidikan sebagai bagian dari usaha untuk meningkatkan taraf kesejahteraan kehidupan manusia merupakan bagian dari pembangunan nasional.

Pendidikan dengan segala persoalannya tidak mungkin diatasi hanya oleh pemerintah. Untuk melaksanakan program-programnya, pemerintah perlu mengundang berbagai pihak, terutama warga masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam berbagai program pendidikan. Partisipasi ini perlu dikelola dan dikoordinasikan secara sistematis agar lebih bermakna bagi upaya peningkatan mutu pendidikan.

Peran serta masyarakat bagi peningkatan mutu pendidikan ini menjadi semakin urgen, terutama jika dikaitkan dengan asumsi bahwa pendidikan didirikan oleh dan untuk masyarakat. Dalam konteks ini, peran serta masyarakat bagi upaya peningkatan mutu pendidikan sangat diharapkan. Masyarakat memegang peran yang sentral dan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal.Tanpa adanya peran serta masyarakat, kiranya pihak pengelola dan praktisi pendidikan mengalami kesulitan dalam pengembangan aspek-aspek pendidikan di masa mendatang.

Tokoh masyarakat berperan sebagai pemrakarsa, mediator, motivator, dan bahkan ada yang berperanan sebagai penyandang dana dan penyedia fasilitas pendidikan. Organisasi kemasyarakatan berperan sebagai pembangkit dan penyampai aspirasi masyarakat, pemberi motivasi, pendamping masyarakat, pengembang, dan penyedia tenaga ahli.

Untuk menyiapkan dan mengembangkan SDM era ilmu pengetahuan satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah menyelenggarakan pendidikan bermutu, yang didukung oleh adanya peran serta aktif warga masyarakat. Peran serta masyarakat ini dapat mengambil bermacam-macam bentuk, sesuai dengan karakteristik masalah pendidikan yang hendak dipecahkan dan status warga masyarakat yang terlibat.


*)Dosen Jurusan KTP FIP UNY/ PD I FIP UNY.

* Tulisan ini adalah salah satu bahan Buletin BEM FIP UNY

tapi dalam proses editan

Juli 3, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: