Chasadja’s Weblog

^pendiDikan webLog^

RESENSI FILM “GIE”

Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie

GIE, Perjuangan Mahasiswa Melawan Ketidakadilan

Judul Film : GIE

Sutradara : Riri Riza

Produksi : Miles Production

Durasi : 147 menit

Peresensi : Fatikha Rahmawati*

GIE, film yang dikemas dengan alur dan setting yang baik ini membuat saya terkagum-kagum. Saya tak pernah melihat sebelumnya film Indonesia yang bisa seperti ini. Memukau dan tajam.

Film garapan sutradara Riri Riza ini menceritakan seorang Soe Hok Gie, pemuda keturunan Tionghoa yang hidup pada era orde lama. Dengan berlatar belakang kehidupan sosial politik pada masa itu. Saya terpukau dengan adanya setting tahun 1960-an yang ditampilkan pada film ini. Setting yang nyaris sempurna menurut pendapat saya, sesuai dengan apa yang saya pikirkan tentang Indonesia pada masa itu.

Adegan awal menceritakan seorang Gie yang berada pada usia remaja, SMP ketika gejolak ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan orde lama sedang berkecamuk. Gie yang tinggal bersama keluarganya, memiliki sahabat karib, serta teman-teman seperjuangannya juga tak lupa untuk diangkat dalam film ini.

Tak lupa untuk memberitahukan setting pada waktu itu, sutradara juga menampilkan teks yang memberitahukan pada penonton kondisi pada waktu itu. Itu akan membantu penonton untuk lebih mencerna dan memahami film tersebut.

Sosok Gie digambarkan sebagai seseorang yang berani berkata yang benar dan memiliki kemampuan bahasa ataupun pemikiran yang jauh dari pemuda-pemuda yang lain. Gie adalah sosok pemuda yang berani mengambil sikap.

Alur maju digunakan dalam film ini. Itu semua terlihat dari perubahan Gie dari usia remaja ke dewasa dengan perubahan sosok Gie dari masa SMP, SMA serta Perguruan Tinggi.

Pemikiran-pemikiran Gie yang tajam dan menusuk pada waktu itu menjadi sajian yang hangat sebagai hidangan pelengkap kisah Orde Lama. Sikap kritis terhadap pemerintahan pada waktu itu selalu ia sampaikan baik secara langsung maupun melalui tulisan-tulisannya.

Bukan hanya menceritakan kehidupan pribadi Soe Hok Gie. Tapi, film ini benar-benar mengangkat sejarah yang pernah ada di Indonesia. Soe Hok Gie yang berjuang bukan hanya untuk dirinya ataupun warga keturunannya, Tionghoa. Tapi juga berjuang untuk keadilan seluruh rakyat Indonesia karena ia warga Indonesia yang tidak mau melihat rakyat Indonesia hidup tertindas dan menginginkan pemerintahan Indonesia yang bersih.

Kecintaan Soe Hok Gie terhadap alam juga ikut ditampilkan dalam film ini melalui kegiatan naik gunung serta keindahan alam ketika berada di pantai.

Dalam film ini lebih banyak digunakan medium close up. Tapi tak sedikit point of view yang juga ditampilkan ketika Soe Hok Gie membaca buku. Close up lebih jarang ditampilkan.

Pada film ini saya merasa pencahayaan yang digunakan terlampau kurang atau memang dibuat seperti itu. Adanya layar hitam yang selalu muncul ketika pergantian adegan juga mengurangi keseriusan saya menyaksikan film ini karena itu cukup mengganggu saya. Ditambah lagi backsound yang kadang lebih keras dibandingkan dengan dialog yang ada. Itu semua merupakan beberapa kekurangan tetapi tertutupi oleh tampilan keseluruhan yang menawan.

Melalui film ini pula saya semakin sadar bahwa kita tak perlu takut berkata tidak pada hal yang memang salah. Kemana arah tujuan Indonesia, “kita“ rakyat Indonesia yang menentukan. SELAMATKAN INDONESIA!

* Mahasiswa TP NR 2007 FIP UNY

Juli 3, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: