PENDIDIKAN DI INDONESIA. SEPERTI APA???
OPTIMALISASI PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM
MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN
Oleh: Anik Ghufron*)
Tantangan besar bangsa Indonesia memasuki era ilmu pengetahuan adalah kemampuannya menyesuaikan diri terhadap berbagai temuan mutakhir bidang ilmu dan teknologi.
Sir Winston Chruchill (Edmund Bachman, 2005: 1) mengatakan “kekuasaan di masa datang adalah kekuatan pikir”. Dalam konteks ini, menurut penulis ada keterkaitan antara ilmu pengetahuan dengan dimensi pikiran.
Selanjutnya, untuk mampu menguasai ilmu pengetahuan dan sukses di masa depan, satu-satunya cara yang bisa ditempuh adalah melalui pendidikan. Alasannya, pendidikan merupakan instrumen strategis bagi pengembangan segenap potensi individu. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSNP) pada pasal 1 ayat (1) menyebutkan “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
Mukhadis (2004) mengemukakan bahwa pembelajaran di Indonesia dewasa ini masih belum maksimal dalam upaya memfasilitasi pembentukan sumberdaya manusia sebagaimana yang dituntut oleh kebutuhan hidup di abad pengetahuan, yaitu dalam pengembangan aspek: berpikir kreatif-produktif (creative—productive thinking), kiat pengambilan keputusan (decision making), kiat pemecahan masalah (problem solving), keterampilan belajar bagaimana belajar (learning how to learn), keterampilan berkolaborasi (collaboration), dan pengelolaan diri (self management).
Muljani A. Nurhadi (1990: 2) mengemukakan bahwa hampir di setiap negara yang perkembangannya menuju tahap industrialisasi, pemerintah dan masyarakatnya selalu memberikan harapan yang sangat besar terhadap pendidikan sebagai tempat penyiapan tenaga kerja produktif. Asumsi yang digunakan adalah ilmu dan teknologi yang diberikan di lembaga pendidikan apabila dikuasai oleh lulusannya akan menjadi modal sebagai tenaga kerja produktif dan akhirnya akan meningkatkan ekonomi. Dampak negatifnya, setiap terjadi kesenjangan antara tenaga kerja yang tersedia dengan jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan maka kesalahan tersebut selalu ditimpakan kepada dunia pendidikan.
Pendidikan seharusnya difungsikan sebagaimana semestinya, yaitu sebagai institusi pencerdasan dan pencerahan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa bisa dilihat dari apresiasi bangsa tersebut terhadap pendidikan. Apalagi jika dikaitkan dengan era ilmu pengetahuan yang sudah di depan mata kita, di mana di antara keduanya saling berkaitan. Suyata (2001: 2) mengatakan “pendidikan dan informasi berjalan bergandengan dan keduanya bertemu dan bersatu dengan komunikasi. Pendidikan tak dapat terlepas dari informasi dan komunikasi”.
Peningkatan mutu pendidikan di setiap jenis dan jenjang pendidikan merupakan langkah strategis yang perlu dilakukan jika bangsa kita berkeinginan memenangkan kompetisi di berbagai bidang kehidupan di era global. Mengapa yang ditingkatkan mutu pendidikan? Salah satu alasannya, pendidikan selalu berkaitan dengan pengembangan sumberdaya manusia. Tilaar (1998) mengatakan bahwa pendidikan sebagai bagian dari usaha untuk meningkatkan taraf kesejahteraan kehidupan manusia merupakan bagian dari pembangunan nasional.
Pendidikan dengan segala persoalannya tidak mungkin diatasi hanya oleh pemerintah. Untuk melaksanakan program-programnya, pemerintah perlu mengundang berbagai pihak, terutama warga masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam berbagai program pendidikan. Partisipasi ini perlu dikelola dan dikoordinasikan secara sistematis agar lebih bermakna bagi upaya peningkatan mutu pendidikan.
Peran serta masyarakat bagi peningkatan mutu pendidikan ini menjadi semakin urgen, terutama jika dikaitkan dengan asumsi bahwa pendidikan didirikan oleh dan untuk masyarakat. Dalam konteks ini, peran serta masyarakat bagi upaya peningkatan mutu pendidikan sangat diharapkan. Masyarakat memegang peran yang sentral dan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal.Tanpa adanya peran serta masyarakat, kiranya pihak pengelola dan praktisi pendidikan mengalami kesulitan dalam pengembangan aspek-aspek pendidikan di masa mendatang.
Tokoh masyarakat berperan sebagai pemrakarsa, mediator, motivator, dan bahkan ada yang berperanan sebagai penyandang dana dan penyedia fasilitas pendidikan. Organisasi kemasyarakatan berperan sebagai pembangkit dan penyampai aspirasi masyarakat, pemberi motivasi, pendamping masyarakat, pengembang, dan penyedia tenaga ahli.
Untuk menyiapkan dan mengembangkan SDM era ilmu pengetahuan satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah menyelenggarakan pendidikan bermutu, yang didukung oleh adanya peran serta aktif warga masyarakat. Peran serta masyarakat ini dapat mengambil bermacam-macam bentuk, sesuai dengan karakteristik masalah pendidikan yang hendak dipecahkan dan status warga masyarakat yang terlibat.
*)Dosen Jurusan KTP FIP UNY/ PD I FIP UNY.
* Tulisan ini adalah salah satu bahan Buletin BEM FIP UNY
tapi dalam proses editan
SERTIFIKASI GURU DI INDONESIA, BAGAIMANA YAAA???!!!
SERTIFIKASI GURU:
Peningkatan Profesionalisme atau Demoralisasi Guru
Deni Hardianto[1]
Semenjak disahkan-nya undang-undang no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, banyak kalangan berharap bahwa itu merupakan awal perbaikan pendidikan di negeri ini. Bukan rahasia umum bahwa kualitas pendidikan di negeri ini dinilai sangat rendah hal tersebut ditunjukan dengan HDI (human developmen indeks) yang selalu berada di urutan terbawah diantara negara-negara lain, jumlah penganguran terdidik kian bertambah, sementara lapangan pekerjaan semakin sempit, itu semua menjunjukan kegagalan dunia pendidikan dalam membangun SDM yang berkualitas. disamping itu minimnya fasilitas pendidikan, terbatasnya sarana prasarana, rendahnya kesejateraan guru menjadi bukti nyata yang menegaskan bahwa pendidikan di negeri ini memang kurang mendapat perhatian. Namun akhir-akhir ini pemerintah dan wakil rakyat telah memberikan sinyal kearah perbaikan pendidikan dengan berbagai regulasi dan kebijakan yang dikeluarkan diantaranya adalah UU no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen.
Salah satu faktor yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah keberadaan guru atau pendidik. Karena guru merupakan ujung tombak pengembangan dan pembangunan pendidikan. Bagaimanapun baiknya suatu sistem pendidikan yang diciptakan jika guru yang melakukan proses pembelajaran kurang profesional maka peningkatan kualitas tetap sulit diwujudkan. Oleh karena itu lahirnya undang-undang guru diharapkan akan menjadi motor penggerak perbaikan kualitas pendidikan di negeri ini. Didalam undang-undang tersebut banyak diatur hal-hal yang menyangkut kedudukan, fungsi, tugas, hak dan kewajiban guru sebagai tenaga pendidik profesional. Dalam pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa guru merupakan tenaga profesional. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Yang dimaksud dengan profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi seperti dinyatakan pada pasal 1 ayat 4.
Seorang guru dikatakan prosesional apabila memenuhi standart yang telah dicantumkan dalam undang-undang. Dalam Pasal 8, dinyatakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Dengan meningkatnya kualifikasi kompetensi dan kualifikasi akademik maka guru berhak mendapatkan kompensasi seperti mendapatkan Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum (pasal 15). Lalu pertanyaannya, bagaimana cara untuk menilai bahwa guru dinyatakan memenuhi standart dan berhak menyandang predikat profesi.
Beberapa waktu lalu pemerintah melalui Depdinas telah melakukan seleksi terhadap puluhan ribu guru untuk mendapatkan pengakuan memenuhi syarat sebagai guru yang dinyatakan profesional. Pelaksanaan sertifikasi guru dilakukan di beberapa Universitas yang ditunjuk oleh pemerintah melalui Depdiknas. Mekanisme penilaian terhadap kinerja guru dilakukan dengan metode portopolio.
Niatan pemerintah tentunya baik dengan metode penilaian portopolio ini, jika guru menjalani dengan kesadaran, kejujuran dan keterbukaan. Numun jika yang menjadi motivasi guru ”Asal” lulus sertifikasi dengan melakukan berbagai cara agar memenui syarat yang ditentukan maka ini perlu di perhatikan. Beberapa kasus mulai terungkap bahwa guru ada yang menggunakan piagam-piagam duplikat yang bukan miliknya, begitu juga dengan beberapa kegiatan-kegiatan yang diikuti oleh guru ada yang fiktif. Pengakuan seorang dosen yang menjadi asesor dalam penilaian sertifikasi guru beberapa waktu lalu menemkan adanya satu jenis piagam/ sertifikat kegiatan yang di fotocopy oleh beberapa orang guru.
Hal yang paling di khwatirkan dari proses sertifikasi guru dengan metode portopolio ini adalah terjadinya ”demoralisai” pada diri guru. Dimana guru melakukan berbagai cara untuk memenuhi syarat agar dapat lolos sertifikasi. Guru rela membeli sertifikat kegiatan, memalsukan dokumen serta terlibat dalam kegiatan-kegiatan fiktif lainya ”asalkan” ia mendapatkan tambahan nilai untuk lolos seleksi sertifikasi. Jika ini yang terjadi maka sertifikasi bukan berdampak pada peningkatan profesionalisme tapi justru menciptakan sistem agar guru menjadi orang yang tidak jujur, orang yang yang pandai menduplikasi, pandai membuat dokumen fiktif, dan akhirnya kita memiliki guru yang justru ”amoral”. Wallahu ’alam bi showab.
[1] Dosen Jurusan KTP FIP UNY
*tulisan ini adalah salah satu arsip Media BEM FIP UNY
Tulisan ini diterbitkan di Buletin BEM FIP “LINGKAR HIJAU”
RESENSI FILM “GIE”

GIE, Perjuangan Mahasiswa Melawan Ketidakadilan
Judul Film : GIE
Sutradara : Riri Riza
Produksi : Miles Production
Durasi : 147 menit
Peresensi : Fatikha Rahmawati*
GIE, film yang dikemas dengan alur dan setting yang baik ini membuat saya terkagum-kagum. Saya tak pernah melihat sebelumnya film Indonesia yang bisa seperti ini. Memukau dan tajam.
Film garapan sutradara Riri Riza ini menceritakan seorang Soe Hok Gie, pemuda keturunan Tionghoa yang hidup pada era orde lama. Dengan berlatar belakang kehidupan sosial politik pada masa itu. Saya terpukau dengan adanya setting tahun 1960-an yang ditampilkan pada film ini. Setting yang nyaris sempurna menurut pendapat saya, sesuai dengan apa yang saya pikirkan tentang Indonesia pada masa itu.
Adegan awal menceritakan seorang Gie yang berada pada usia remaja, SMP ketika gejolak ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan orde lama sedang berkecamuk. Gie yang tinggal bersama keluarganya, memiliki sahabat karib, serta teman-teman seperjuangannya juga tak lupa untuk diangkat dalam film ini.
Tak lupa untuk memberitahukan setting pada waktu itu, sutradara juga menampilkan teks yang memberitahukan pada penonton kondisi pada waktu itu. Itu akan membantu penonton untuk lebih mencerna dan memahami film tersebut.
Sosok Gie digambarkan sebagai seseorang yang berani berkata yang benar dan memiliki kemampuan bahasa ataupun pemikiran yang jauh dari pemuda-pemuda yang lain. Gie adalah sosok pemuda yang berani mengambil sikap.
Alur maju digunakan dalam film ini. Itu semua terlihat dari perubahan Gie dari usia remaja ke dewasa dengan perubahan sosok Gie dari masa SMP, SMA serta Perguruan Tinggi.
Pemikiran-pemikiran Gie yang tajam dan menusuk pada waktu itu menjadi sajian yang hangat sebagai hidangan pelengkap kisah Orde Lama. Sikap kritis terhadap pemerintahan pada waktu itu selalu ia sampaikan baik secara langsung maupun melalui tulisan-tulisannya.
Bukan hanya menceritakan kehidupan pribadi Soe Hok Gie. Tapi, film ini benar-benar mengangkat sejarah yang pernah ada di Indonesia. Soe Hok Gie yang berjuang bukan hanya untuk dirinya ataupun warga keturunannya, Tionghoa. Tapi juga berjuang untuk keadilan seluruh rakyat Indonesia karena ia warga Indonesia yang tidak mau melihat rakyat Indonesia hidup tertindas dan menginginkan pemerintahan Indonesia yang bersih.
Kecintaan Soe Hok Gie terhadap alam juga ikut ditampilkan dalam film ini melalui kegiatan naik gunung serta keindahan alam ketika berada di pantai.
Dalam film ini lebih banyak digunakan medium close up. Tapi tak sedikit point of view yang juga ditampilkan ketika Soe Hok Gie membaca buku. Close up lebih jarang ditampilkan.
Pada film ini saya merasa pencahayaan yang digunakan terlampau kurang atau memang dibuat seperti itu. Adanya layar hitam yang selalu muncul ketika pergantian adegan juga mengurangi keseriusan saya menyaksikan film ini karena itu cukup mengganggu saya. Ditambah lagi backsound yang kadang lebih keras dibandingkan dengan dialog yang ada. Itu semua merupakan beberapa kekurangan tetapi tertutupi oleh tampilan keseluruhan yang menawan.
Melalui film ini pula saya semakin sadar bahwa kita tak perlu takut berkata tidak pada hal yang memang salah. Kemana arah tujuan Indonesia, “kita“ rakyat Indonesia yang menentukan. SELAMATKAN INDONESIA!
* Mahasiswa TP NR 2007 FIP UNY
SEDIKIT TENTANG “MEDIA PEMBELAJARAN”
Definisi Media
Secara umum media adalah segala jenis media pembelajaran yang dipakai dalam proses belajar mengajar. Sedangkan secara khusus definisi media yaitu media pembelajaran yang digunakan dengan alat penampil (hardware dan software) dalam proses belajar mengajar.
Klasifikasi Media
¯ Audio : sesuatu yang hanya bisa didengar
¯ Visual : sesuatu yang hanya bisa dilihat
¯ Audovisual : sesuatu yang bisa didengar dan juga bisa dilihat
Alat penampil
Media musik
J Pembuka : intro
J Penutup : extro
J Penyeling : untuk menyelingi pembicaraan
J Latar belakang : jenis musik untuk memberi latar suatu dialog
J Penegas : jenis musik yang diperdengarkan dengan sifat yang akan mebuat penonton atau pendengar terkejut
J Fx sound effect : hanya suara saja bukan lagu yang berlirik
Contoh : suara motor, suara hentakan kaki
Media naskah suatu cerita dapat dibuat menjadi rekaman.
Dalam rekaman kita memerlukan ruang kedap suara yang didalamnya terdiri dari 2 ruangan. Setiap ruangan memiliki fungsi dan peralatan yang berbeda.
F Ruang I (Studio)
1. mic
2. pengeras suara/corong
3. lampu isyarat
4. jam dinding
5. kursi
F Ruang II (Ruang rekaman)
1. Mixer
2. amplifier
3. pengeras suara
4. lampu isyarat
5. jam
6. kaset recorder/tape recorder/kaset desk
![]()
![]()
mic/suara mixer amplifier corong/pengeras suara
KOMUNIKASI
Komunikasi digunakan sebagai
© sebagai usaha penyampaian atau pemindahan informasi, ide kepada orang lain secara verbal
© sebagai proses seseorang secara individual atau kelompok mempengaruhi orang lain
© sebagai proses dimana seseorang menyampaikan perangsang-perangsang untuk merubah tingkah laku orang lain
© menyampaikan pesan supaya memperoleh tanggapan yang tepat
HOVLAND : proses dimana seseorang (komunikator) menyampaikan perangsang (dalam bentuk kata-kata) untuk merubah tingkah laku orang lain.
CHARLES COOLEY : mekanisme yang menimbulkan adanya dan berkembangnya hubungan manusia, semua lambang, pikiran bersama sarana untuk menyiarkannya dalam ruang dan merekamnya dalam waktu.
CLAUDE SHANNON dan WARREN WEAVER : komunikasi meliputi semua prosedur dimana sebuah pikiran mempengaruhi pikiran lain.
Mencakup : kata-kata tulisan dan lisan, musik, lukisan, sandiwara, balet dan semua tingkah laku manusia.
Jadi kesimpulannya komunikasi adalah proses penyampaian lambang yang mengandung pengertian yang sama oleh seseorang kepada orang lain, baik dengan maksud agar mengerti maupun agar berubah tingkah lakunya.
Cara-cara pokok Komunikasi
- bicara (speaking) è mendengarkan (listening)
- menggambarkan (visualisasi) è mengamati (observasi)
- menulis è membaca
Komponen atau Unsur Pokok Komunikasi
1. sender : orang yang menghasilkan pemikiran/ ide atau sebagaio sumber ide (souces)
2. message : pesan yang berwujud ide, pengalaman, harapan yang akan disampaikan
3. channel : sesuatu yang menjadi perantara dalam penyampaian pesan
4. receiver : orang yang menerima ide dan bisa menafsirkan
5. feed back : umpan balik yang berupa reaksi/ response sebagai akibat/ efek sampai tidaknya pesan (message) dari si penerima ide.
MODEL KOMUNIKASI
- sender è message è receiver
- source è channel è receiver
![]()
pesan
- pengirim penerima
umpan balik
- komunikator è berita è saluran è komunikan (receptor)


source message channel
feed back receiver
- mengenal komponen proses komunikasi
¯ sumber (source)
¯ komunikator (encoder)
¯ pernyataan pesan (message)
¯ komunikan (decoder)
¯ tujuan (destination)
![]()
message
encoder decoder
enterpreter interpreter
decoder encoder
message
S à E à M à D à De
Information à transmitter à channel à receiver à destination
Message signal received message
signal
noise sources
Bentuk-bentuk Komunikasi
1) berdasarkan jumlah receiver
¯ komunikasi personal (personal comm)
¯ komunikasi kelompok (group comm)
¯ komunikasi massa ( mass comm)
2) Berdasarkan caranya
o Komunikasi langsung (face to face)
o Komunikasi tidak langsung
3) Berdasarkan arah komunikasi
o Komunikasi satu arah
o Komunikasi dua arah
Hambatan-hambatan
L Komunikator yang kurang mampu menyampaikan/ mengoperasikan perangsang
L Adanya perbedaan interpretasi komunikan
L Adanya perbedaan ruang dan waktu antara komunikator dengan komunikan
L Jumlah komunikan sangat banyak sehingga sukar dijangkau oleh komunikator.
GURU? Seberapa besar pengaruhnya untuk kita?
Pengertian profil dan karakter guru
Pengertian profil dalam karya tulis ini adalah metode pembelajaran guru dalam bentuk kreatifitas, inovasi, keterampilan, kemandirian, dan tanggung jawab dalam berinteraksi dengan siswa.
Profil guru dalam bentuk kreatifitas diartikan bagaimana guru dapat membuat anak didiknya menjadi faham keterangan yang dijelaskannya dengan metode pembelajaran yang sekiranya dapat menarik siswa untuk menyukai pelajaran. Profil guru dalam bentuk kreatifitas juga diartikan sebagai kemampuan guru untuk menciptakan lingkungan sosial atau suasana kelas menjadi semenarik mungkin bagi siswa. Sebagaimana dijelaskan, bahwa lingkungan sosial atau suasana kelas adalah penentu psikologis utama yang mempengaruhi belajar akademis (Walbergdan Greenberg, 1997). Suasana atau keadaan ruangan menunjukan arena belajar yang dipengaruhi emosi. Tidak hanya itu, disini kreatifitas juga diartikan sebagai kemampuan guru dalam memperhatikan dan memahami emosi siswa. Sehingga guru mampu berfikir rasional dalam membaca dan membimbing emosi siswa.
Guru yang kreatif lebih mampu menemukan inovasi-inovasi untuk mengendalikian proses pembelajaran. Inovasi yang didefinisikan merekacipta sesuatu yang baru, baru dalam artikata memang benda yang baru, ataupun memperbaharui objek yang lama, merupakan sebuah hasil kerja keras dari guru-guru yang kreatif (Khairusy, 2004). Guru yang mampu berinovasi akan mampu menciptakan sesuatu yang baru dalam pengajarannya. Siswa akan lebih tertarik dan tidak jenuh dengan bentuk pengajaran yang inovatif atau tidak monoton. Hal ini dapat menjadikan proses pembelajaran lebih efektif.
Profil guru dalam bentuk keterampilan diartikan sebagai kemampuan guru dalam mengausai suasana emosional siswa. Guru yang demikian, cakap dalam melihat dan mengatur suasana yang sedang terjadi dalam kelas. Sehingga guru mampu membawa siswa ikut terjaring ke dalam kondisi emosional terkontrol yang membawa dampak positif bagi proses pembelajaran.
Guru yang kreatif, inovatif, dan trampil merupakan bentuk ideal kemandirian guru. Dengan kecakapan yang dimiliki guru, secara mandiri guru mampu membuat suasana kondusif yang telah memenuhi arti dunia pendidikan yang selama ini kurang berfungsi sebagai mana mestinya, yaitu sebagai lembaga yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu.
Guru yang bertanggung jawab dalam mengajar merupakan hasil dari kemandirian yang telah dimiliki. Guru yang mandiri lebih memiliki sifat profesional tinggi, karena telah mampu menciptakan dunia pendidikan yang sesuai dengan hakikatnya. Guru tidak lagi berfikir asal-asalan dalam mengajar tanpa memikirkan keefektifan dalam pembelajarannya, baik siswa mengerti atau pun tidak.
Selain profil, setiap guru juga mempunyai sebuah karakter. Definisi karakter guru dalam karya tulis ini adalah sifat asli seorang guru yang dijadikan batasan kepada siswa. Yang dimaksud dengan batasan disini adalah bagaimana guru membatasi siswanya agar tidak terlalu larut dalam keadaan guru yang menjadikan siswa sebagai manusia sederajat, sehingga siswa tidak mengangap guru sebagai manusia yang sederajat (teman sendiri).
Semua guru mempunyai karakter yang berbeda-beda, mulai dari guru yang berkarakter lemah lembut, penyayang, perhatian, sampai yang berkarakter keras. Karakter-karakter ini merupakan sifat asli guru yang tidak bisa dilepaskan. Karakter adalah gambaran pribadi seseorang, yang tidak seharusnya untuk diubah. Berbagai macam karakter guru merupakan bentuk jati diri dalam keseimbangan dunia pendidikan.
Dalam arti luas profil guru adalah metode pembelajaran yang digunakan dalam berinteraksi dengan siswa. Sedangkan karakter guru adalah sifat asli sebagai bentuk kepribadian guru dalam proses pembelajaran. Keduanya adalah sesuatu yang saling terkait satu sama lain sebagai faktor vital dalam sistem pembelajaran.
Hubungan harmonis antara guru dan siswa merupakan faktor vital dalam sistem pembelajaran akan tetapi di dalam dunia pendidikan kita selama ini agaknya hal ini telah terabaikan karena dari dulu pemerintah hanya terfokus pada pembangunan, terbukti. sejak awal kemerdekaan, era Orde Baru hingga saat ini.
Hingga sekarang pembangunan pada sektor pendidikanpun masih berlanjut bahkan sekarang pemerintah mengupayakan mengubah kurikulum demi menciptakan siswa yang dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran. Akan tetapi pemerintah kurang memperhatikan keharmonisan hubungan guru dengan siswa didalam proses pembelajaran, padahal kenyataanya kurikulum yang dianggap pemerintah dapat menjadikan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran belum dapat diterapkan secara maksimal karena kurang harmonisnya hubungan guru dengan siswa. Dari hasil dialog interaktif dengan siswa sebagai pelaku dalam proses pembelajaran, mayoritas siswa mengaku, pembelajaran yang selama ini mereka terima kurang efektif dikarnakan masalah mereka dengan guru, baik mengenai metode pembelajara, suasana pembelajaran, atau pun yang lainya.
Syarat Minimal Guru Yang Baik
Syarat minimal seorang guru yang baik adalah bisa membuat muridnnya mengerti dan memahami materi yang dia ajarkan. Dan untuk bisa membuat murid-murid mengerti akan apa yang diajarkan tentunya bukan pekerjaan mudah.
1. Menguasai materi
Bukanlah seorang guru jika ia tidak menguasai materi yang harus diajarkan. Tanpa menguasai materi, seorang guru bisa dipermainkan dan dipermalukan oleh murid-muridnya yang pandai. Dengan terkuasainya materi pula, seorang guru akan dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan siswa kepadanya.
2. Sabar, tegas, dan berwibawa
Sabarnya seorang guru dalam arti bahwa ia tidak begitu saja menilai kesalahan seorang murid sebagai suatu hal yang harus dihukum. Selain itu ia harus tetap bersikap tenang dalam menghadapi berbagai masalah di kelas, jangan sampai terbawa emosi. Tegasnya seorang guru berarti ia harus menindak suatu masalah dengan cara yang benar dan tidak plin-plan. Yang tidak boleh dilupakan, seorang guru haruslah berwibawa. Dengan wibawanya, ia akan dihormati oleh murid-muridnya, mereka pun akan antusias mendengarkan gurunya berbicara.
3. Mengayomi siswanya
Guru yang baik harus mengerti apa kebutuhan siswanya. Guru yang seperti itu dikatakan dapat mengayomi siswanya. Guru adalah orangtua kedua bagi seorang siswa sehingga di kelas ia harus bertindak layaknya orangtua yang baik bagi siswanya. Dengan demikian akan tercipta kasih sayang dua arah dan menjadikan suatu situasi yang kondusif yang mendukung kegiatan belajar mengajar.
Ciri-ciri Guru Yang Disenangi Siswa
Tidak memaksa siswa untuk belajar dengan menambah jam-jam pelajaran
Tidak menggenjot siswa dengan menambah jam-jam pelajaran tambahan sebagaimana latihan militer yang keras dan disiplin tinggi, mengebom mental siswa dengan berbagai macam tes yang sulit-sulit soalnya.
Tidak arogan/sombong
Guru diberi kebebasan melakukan metode mengajar yang terbaik menurutnya tanpa harus arogan, petantang petenteng menatap siswanya agar memelas minta ampun supaya tidak diberikan tes atau ulangan yang soalnya sulit. Hal ini justru membunuh karakter perkembangan diri siswa yang ingin bebas menjalankan tujuan hidupnya … sejak pra-sekolah siswa sudah diberikan bekal untuk menguji pandangan hidupnya sendiri di masa mendatang. Di Indonesia saat ini, tujuan pengajaran secara tidak kasat mata adalah Mengajarkan siswa/murid supaya lolos ujian nasional/ ulangan umum/ naik kelas bukan untuk memikirkan menjadi apa di masa mendatangnya.
Sabar dan toleransi
Siswalah yang menentukan bahan apa yang hendak dipelajarinya, guru memberikan kesabaran, toleransi dalam kompetensi yang tinggi sesuai keterampilan mengajarnya untuk membimbing siswa. Siswa yang remedial bukan berarti siswa itu bodoh, tetapi ada kesempatan untuk memperbaiki kinerja siswa dalam belajar dan ditanggapi guru dengan sabar, kompromistik, komprehensif dan fleksibel.
Bisa menciptakan suasana yang menyenangkan
Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan berarti adalah suasana belajar dibuat tidak membosankan sehingga siswa yang mengikuti pelajaran tersebut menikmati pelajaran yang diberikan. Hal ini dapat menunjang keberhasilan pembelajaran dan pengajaran di kelas atau di luar kelas.
Enak diajak curhat
Bahwa setiap siswa itu pasti punya masalah entah masalah yang bisa mengganggu kegiatan belajar maupun yang tidak. Tapi kebanyakan masalah itu bisa menggangu kegiatan belajar siswa, jadi tidak konsentrasi karena sedang ada masalah. Dari situlah pentingnya seorang guru yang bisa dekat dengan siswa, siswa akan senantiasa menceritakan masalahnya dan guru tersebut diharapkan bisa memberi solusi untuk meringankan beban masalah siswa tersebut. Dengan ini diharapkan kegiatan belajar akan kembali normal.
Murah senyum dan ramah
Senyum adalah salah satu kriteria yang didambakan siswa terhadap gurunya. Misalnya guru sedang bejalan dimanapun saat ketemu dan siswanya menayapa kalau guru itu tidak senyum pasti siswa akan jadi jengkel. Sedangakan dengan senym dsan saling menyapa akan menambah keakraban.
Adil dan bijaksana
Bahwa setiap siswa itu mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Kadang seorang guru hanya berpusat pada siswa yang pandai padahal siswa yang kurang pandai itu juga butuh perhatian dan siswa yang pandai itu juga bisa membantunya.
Profesional dalam mengampu mata pelajaran yang sesuai dengan bidangnya
Sesuai dengan apa yang dia peroleh dan dia tekuni dalam pendidikannya. Tidak berupaya hanya sekedar mendapatkan pekerjaan tetapi juga berupaya memberikan apa yang dimilikinya yang tentunya sesuai dengan bidangnya.
Guru profesional, menurut pandangan umum ialah pendidik yang dapat dipatuhi (digugu) perikatanya serta diikuti (ditiru) perilakunya. Ia dipatuhi apa yang dikatakan karena memiliki kecerdasan yang memadai dan diikuti apa yang dilakukan karena memiliki budi pekerti yang mulia. Guru profesional ialah sosok yang ‘lengkap’, cerdas, dan berbudi pekerti sebagai dasar untuk menjalankan tugas keguruannya.
Dapat mengelola kelas dengan baik
Dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan sehingga siswa-siswa betah belajar di kelas. Suasana pembelajaran yang menyenangkan (joyfull learning) yang dipadukan dengan pembelajaran aktif (active learning).
Pembelajaran yang menyenangkan bukan semata-mata pembelajaran yang mengharuskan anak-anak untuk tertawa terbahak-bahak, melainkan sebuah pembelajaran yang di dalamnya terdapat kohesi yang kuat antara guru dan murid dalam suasana yang sama sekali tidak ada tekanan. Yang ada hanyalah jalinan komunikasi yang saling mendukung. Pembelajaran yang membebaskan, menurut konsep Paulo Fraire, adalah pembelajaran yang di dalamnya tidak ada lagi tekanan, baik tekanan fisik maupun psikologis. Sebab, tekanan apa pun namanya hanya akan mengerdilkan pikiran siswa, sedangkan kebebasan apa pun wujudnya akan dapat mendorong terciptanya iklim pembelajaran (learning climate) yang kondusif.
Disiplin
Seorang guru diharapkan harus memberikan contoh yang baik dengan kedisiplinan seperti : datang tepat pada waktunya, mengajar sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Apabila dalam kegiatan mengajar guru tidak dapat hadir, hendaknya guru menulis surat untuk Kepala Sekolah serta mengutus salah satu pegawai untuk memberikan tugas kepada siswa yang pada hari itu diampu oleh guru tersebut. Karena kedisiplinan awal dari kesuksesan dan displin pula yang harus ditanamkan pada diri kita.
Bisa menjadi tauladan yg baik bagi siswa sebagai peserta didik
Seharusnya, Guru-guru tidak pernah kehilangan harapan dan ketulusan mengabdikan diri di bidang pendidikan. Mereka bersikap layaknya juru taman yang dengan penuh kasih memelihara dan membesarkan putik-putik bunga di taman agar tidak terganggu suasana carut-marut di sekitarnya.
Bisa memahami siswa
Hubungan antara guru dan murid dapat dijalin dengan pendekatan didaktik metodik yang bernuansa “pedagogis”. Artinya, interaksi antara guru dan murid tidak dijalin dengan komunikasi yang “kaku” seperti “orang yang serba tahu” dengan “anak yang serba tidak tahu”. Dengan demikian, sensitivitas guru lebih mengarah kepada upaya untuk memberikan pelayanan secara prima kepada siswa-siswinya. Pelayanan semacam ini akan terwujud manakala guru benar-benar dapat memerankan diri sebagai fasilitator, bukan sebagai orang yang harus dilayani.
Mampu memberi motivasi dan nasehat
Guru ialah pendidik yang dalam kesehariannya bergaul dan beraktivitas memotivasi, mengarahkan serta membimbing kemajuan siswa sebagai peserta didiknya. Itulah sebabnya, tanpa guru yang profesional niscaya kualitas pendidikan dapat dicapai. Guru harus mampu memberikan inspirasi yang ideal.
Berpenampilan menarik
Intensitas pertemuan antara guru dan siswa di sekolah berlangsung hampir setiap hari, baik pada jam pelajaran ataupun diluar jam pelajaran. Guru adalah teladan / contoh bagi siswa-siswi di sekolah, baik tingkah laku maupun gaya berpenampilan secara tidak langsung akan di contoh oleh siswanya. Oleh sebab itu, guru diharapkan dapat berpenampilan menarik dan rapi. Selain mencontohkan kepada siswa supaya berpakaian rapi, juga memberikan kesan berwibawa.
Mengikuti perkembangan zaman
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, guru diharapkan dapat selalu memngikuti perkembangan yang ada. Jadi guru dapat menginformasikan pada siswa apa-apa saja yang terjadi, sehingga siswa dapat mengikuti perkembangan zaman.
* materi ini saya ambil dari tugas di mata kuliah Ilmu Pendidikan tentang sosok guru yang baik. Materi tersebut didapat dari berbagai sumber yang mendukung serta diperoleh dari keterangan teman-teman mahasiswa.
-
Terkini
- KenaLan yuuuKkkk…
- PENDIDIKAN DI INDONESIA. SEPERTI APA???
- SERTIFIKASI GURU DI INDONESIA, BAGAIMANA YAAA???!!!
- RESENSI FILM “GIE”
- SEDIKIT TENTANG “MEDIA PEMBELAJARAN”
- GURU? Seberapa besar pengaruhnya untuk kita?
- aDa aPa di TeKnoLogi PendidiKan !!!
- tEruSLaH ada di bLogQ
- infoRmasi??? apa itu?
- apa itu data? ingin tahu???
- Prinsip Pengembangan Media Pendidikan – Sebuah Pengantar -
- Hello world!
-
Tautan
-
Arsip
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS